HUBUNGAN AUDITOR INDEPENDEN DENGAN KLIEN

AUDITOR’S VS MANAGEMENT’S RESPONCIBILITIES

  1. Hubungan auditor independen dengan klien.

Dalam audit laporan keuangan ,auditor menjalin hubungan professional dg 4 kelompok penting,yaitu manajemen,dewan direksi dan komite audit,auditor internal,pemegang saham.

MANAJEMEN

Manajemen menunjukkan pada kelompok perorangan yang secara aktif merencanakan ,melakukan koordinasi,serta mengendalikan jalan nya operasi dan transaksi klien.

DEWAN DIREKSI DAN KOMITE AUDIT

Dewan direksi suatu perusahaan  bertanggung jawab untuk memastikan bahwa perusahaan dioperasikan dengan cara terbaik untuk kepentingan para pemegang saham.hubungan  auditor dengan para direktur sebagian besar tergantung pada komposisi dewan itu sendiri.

Fungsi suatu komite audit yang secara langsung mempengaruhi auditor independen adalah :

1.mencalonkan kantor akuntan public untuk melaksanakan audit tahunan.

2.mendiskusikan lingkup audit dengan auditor

3.mengundang auditor secara langsung mengkomunikasikan masalah-masalah besar yang dijumpai selama pelaksanaan audit

4.me-review laporan keuangan dan laporan auditor bersama auditor pada saat penyelesaian penugasan.

AUDITOR INTERNAL

Seorang auditor independen biasanya memiliki hubungan kerja yang dekat dengan seorang auditor internal yang ada pada perusahaan klien.auditor independen juga memiliki kepentingan langsung dengan pekerjaan auditor internal yang berkaitan dengan struktur pengendalian intern klien.

PEMEGANG SAHAM

Para pemegang saham sangat mengendalkan laporan keuangan yang telah diaudit untuk mendapatkan keyakinan bahwa manajemen telah melaksanakan tugas yang dibebankan dengan penuh tanggung jawab.oleh karna itu,auditor memiliki tanggung jawab yang penting kepada pemegang saham  sebagai  pengguna utama laporan auditor.

  1. TANGGUNG JAWAB AUDITOR INDEPENDEN DENGAN TANGGUNG JAWAB MANAJEMEN

Auditor

Bertanggung-jawab untuk merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari salah saji materiil (baik yang disebabkan oleh kekeliruan ataupun kecurangan).

Manajemen

bertanggung jawab untuk menerapkan kebijakan akuntansi yang sehat dan untuk membangun dan memelihara pengendalian intern yang akan, di antaranya, mencatat, mengolah, meringkas, dan melaporkan transaksi (termasuk peristiwa dan kondisi) yang konsisten dengan asersi manajemen yang tercantum dalam laporan keuangan.

Penaksiran Risiko Pengendalian dan Pendesainan Pengujian Pengendalian

Penaksiran risiko pengendalian untuk suatu asersi merupakan faktor penentu tingkat risiko deteksi yang dapat diterima untuk suatu asersi, yang pada gilirannya akan berdampak terhadap tingkat pengujian substantif yang direncanakan (yang mencakup sifat, saat, dan lingkup pengujian substantif) yang harus dilakukan untuk menyelesaikan audit. Jika risiko pengendalian ditaksir terlalu rendah, risiko deteksi dapat terlalu tinggi ditetapkan dan auditor dapat melaksanakan pengujian substantif yang tidak memadai sehingga auditnya tidak efektif. Sebaliknya jika risiko pengendalian ditaksir terlalu tinggi, auditor dapat melakukan pengujian substantif melebihi dari jumlah yang diperlukan sehingga auditor melakukan audit yang tidak efisien.

Pengujian pengendalian adalah prosedur audit yang dilaksanakan untuk menentukan efektivitas desain dan/atau operasi kebijakan dan prosedur pengendalian intern. Berbagai pengujian pengendalian dapat dipilih oleh auditor dalam pelaksanaan auditnya, yaitu sebagai berikut.

  1. Pengujian pengendalian bersamaan (concurrent tests of controls),
  2. Pengujian pengendalian tambahan,
  3. Pengujian pengendalian yang direncanakan,
  4. Pengujian dengan tujuan ganda (dual-purpose tests),

Penaksiran Risiko Deteksi dan Pendesainan Pengujian Substantif

Desain pengujian substantif sangat ditentukan oleh risiko deteksi yang ditetapkan oleh auditor. Desain pengujian substantif mencakup penentuan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang diperlukan untuk memenuhi tingkat risiko deteksi setiap asersi. Auditor dapat menggunakan jenis pengujian substantif berikut, yaitu prosedur analitik, pengujian terhadap transaksi terperinci, dan pengujian terhadap saldo terperinci. Pengujian substantif dapat dilaksanakan sebelum tanggal neraca dan pada atau mendekati tanggal neraca, tergantung risiko deteksi yang ditetapkan oleh auditor.

Rerangka umum pengembangan program audit untuk pengujian substantif adalah sebagai berikut, (1) tentukan prosedur awal audit, (2) tentukan prosedur analitik yang perlu dilaksanakan, (3) tentukan pengujian terhadap transaksi terperinci, (4) tentukan pengujian terhadap akun terperinci.

Posted on Desember 21, 2012, in Pemeriksaan Akuntansi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: