Arsip Kategori: Pemeriksaan Akuntansi

HUBUNGAN AUDITOR INDEPENDEN DENGAN KLIEN

AUDITOR’S VS MANAGEMENT’S RESPONCIBILITIES

  1. Hubungan auditor independen dengan klien.

Dalam audit laporan keuangan ,auditor menjalin hubungan professional dg 4 kelompok penting,yaitu manajemen,dewan direksi dan komite audit,auditor internal,pemegang saham.

MANAJEMEN

Manajemen menunjukkan pada kelompok perorangan yang secara aktif merencanakan ,melakukan koordinasi,serta mengendalikan jalan nya operasi dan transaksi klien.

DEWAN DIREKSI DAN KOMITE AUDIT

Dewan direksi suatu perusahaan  bertanggung jawab untuk memastikan bahwa perusahaan dioperasikan dengan cara terbaik untuk kepentingan para pemegang saham.hubungan  auditor dengan para direktur sebagian besar tergantung pada komposisi dewan itu sendiri.

Fungsi suatu komite audit yang secara langsung mempengaruhi auditor independen adalah :

1.mencalonkan kantor akuntan public untuk melaksanakan audit tahunan.

2.mendiskusikan lingkup audit dengan auditor

3.mengundang auditor secara langsung mengkomunikasikan masalah-masalah besar yang dijumpai selama pelaksanaan audit

4.me-review laporan keuangan dan laporan auditor bersama auditor pada saat penyelesaian penugasan.

AUDITOR INTERNAL

Seorang auditor independen biasanya memiliki hubungan kerja yang dekat dengan seorang auditor internal yang ada pada perusahaan klien.auditor independen juga memiliki kepentingan langsung dengan pekerjaan auditor internal yang berkaitan dengan struktur pengendalian intern klien.

PEMEGANG SAHAM

Para pemegang saham sangat mengendalkan laporan keuangan yang telah diaudit untuk mendapatkan keyakinan bahwa manajemen telah melaksanakan tugas yang dibebankan dengan penuh tanggung jawab.oleh karna itu,auditor memiliki tanggung jawab yang penting kepada pemegang saham  sebagai  pengguna utama laporan auditor.

  1. TANGGUNG JAWAB AUDITOR INDEPENDEN DENGAN TANGGUNG JAWAB MANAJEMEN

Auditor

Bertanggung-jawab untuk merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari salah saji materiil (baik yang disebabkan oleh kekeliruan ataupun kecurangan).

Manajemen

bertanggung jawab untuk menerapkan kebijakan akuntansi yang sehat dan untuk membangun dan memelihara pengendalian intern yang akan, di antaranya, mencatat, mengolah, meringkas, dan melaporkan transaksi (termasuk peristiwa dan kondisi) yang konsisten dengan asersi manajemen yang tercantum dalam laporan keuangan.

Penaksiran Risiko Pengendalian dan Pendesainan Pengujian Pengendalian

Penaksiran risiko pengendalian untuk suatu asersi merupakan faktor penentu tingkat risiko deteksi yang dapat diterima untuk suatu asersi, yang pada gilirannya akan berdampak terhadap tingkat pengujian substantif yang direncanakan (yang mencakup sifat, saat, dan lingkup pengujian substantif) yang harus dilakukan untuk menyelesaikan audit. Jika risiko pengendalian ditaksir terlalu rendah, risiko deteksi dapat terlalu tinggi ditetapkan dan auditor dapat melaksanakan pengujian substantif yang tidak memadai sehingga auditnya tidak efektif. Sebaliknya jika risiko pengendalian ditaksir terlalu tinggi, auditor dapat melakukan pengujian substantif melebihi dari jumlah yang diperlukan sehingga auditor melakukan audit yang tidak efisien.

Pengujian pengendalian adalah prosedur audit yang dilaksanakan untuk menentukan efektivitas desain dan/atau operasi kebijakan dan prosedur pengendalian intern. Berbagai pengujian pengendalian dapat dipilih oleh auditor dalam pelaksanaan auditnya, yaitu sebagai berikut.

  1. Pengujian pengendalian bersamaan (concurrent tests of controls),
  2. Pengujian pengendalian tambahan,
  3. Pengujian pengendalian yang direncanakan,
  4. Pengujian dengan tujuan ganda (dual-purpose tests),

Penaksiran Risiko Deteksi dan Pendesainan Pengujian Substantif

Desain pengujian substantif sangat ditentukan oleh risiko deteksi yang ditetapkan oleh auditor. Desain pengujian substantif mencakup penentuan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang diperlukan untuk memenuhi tingkat risiko deteksi setiap asersi. Auditor dapat menggunakan jenis pengujian substantif berikut, yaitu prosedur analitik, pengujian terhadap transaksi terperinci, dan pengujian terhadap saldo terperinci. Pengujian substantif dapat dilaksanakan sebelum tanggal neraca dan pada atau mendekati tanggal neraca, tergantung risiko deteksi yang ditetapkan oleh auditor.

Rerangka umum pengembangan program audit untuk pengujian substantif adalah sebagai berikut, (1) tentukan prosedur awal audit, (2) tentukan prosedur analitik yang perlu dilaksanakan, (3) tentukan pengujian terhadap transaksi terperinci, (4) tentukan pengujian terhadap akun terperinci.

Audit Sampling

AUDIT SAMPLING

Pendahuluan

Sampling audit adalah penerapan prosedur audit terhadap kurang dari seratus persen unsur dalam suatu saldo akun atau kelompok transaksi dengan tujuan untuk menilai beberapa karakteristik saldo akun atau kelompok transaksi tersebut.1 Seksi ini memberikan panduan dalam

perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian sampel audit.

Ada dua pendekatan umum dalam sampling audit: nonstatistik dan statistik. Kedua pendekatan tersebut mengharuskan auditor menggunakan pertimbangan profesionalnya dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian sampel, serta dalam menghubungkan bukti audit yang dihasilkan dari sampel dengan bukti audit lain dalam penarikan kesimpulan atas saldo akun atau kelompok transaksi yang berkaitan. Panduan dalam Seksi ini berlaku baik untuk sampling audit secara statistik maupun nonstatistik

KETIDAKPASTIAN DAN SAMPLING AUDIT

Beberapa tingkat ketidakpastian secara implisit termasuk dalam konsep “sebagai dasar memadai untuk suatu pendapat” yang diacu dalam standar pekerjaan lapangan ketiga. Dasar untuk menerima beberapa ketidakpastian timbul dari hubungan antara faktor-faktor seperti biaya dan waktu yang diperlukan untuk memeriksa semua data dan konsekuensi negatif dari kemungkinan keputusan yang salah yang didasarkan atas kesimpulan yang dihasilkan dari audit terhadap data sampel saja.

Risiko Sampling

Auditor harus menerapkan pertimbangan profesional dalam menentukan risiko sampling. Dalam menyelenggarakan pengujian substantif atas rincian, auditor memperhatikan dua aspek daririsiko sampling: Risiko keliru menerima (risk of incorrect acceptance), yaitu risiko mengambil kesimpulan, berdasarkan basil sampel, bahwa saldo akun tidak berisi salah saji secara material, padahal kenyataannya saldo akun telah salah saji secara material.  Risiko keliru menolak ( risk of incorrect reject ion) , yaitu risiko mengambil kesimpulan, berdasarkan hasil sampel, bahwa saldo akun berisi salah saji secara material, padahal kenyataannya saldo akun tidak berisi salah saji secara material.

Sampling Dalam Pengujian Substantif Rinci

Perencanaan Sampel

Perencanaan meliputi pengembangan strategi untuk melaksanakan audit atas laporan keuangan. Untuk panduan umum perencanaan, lihat SA Seksi 311 [PSA No. 05] Perencanaan dan Supervisi.

Dalam perencanaan sampel untuk pengujian substantif rinci, auditor harus mempertimbangkan:

-          Hubungan antara sampel dan tujuan audit yang relevan. Lihat SA Seksi 326 [PSA No. 07] Bukti Audit. Sampling Audit

-     Pertimbangan pendahuluan atas tingkat materialitas.

-     Tingkat risiko keliru menerima yang dapat diterima (allowable risk of incorrect acceptance).

-      Karakteristik populasi, yaitu unsur yang membentuk saldo akun atau kelompok transaksi yang menjadi perhatian.

Pemilihan Sampel

Unsur sampel harus dipilih sedemikian rupa sehingga sampelnya dapat diharapkan mewakili populasi. Oleh sebab itu, semua unsur dalam populasi harus memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih. Sebagai contoh, pemilihan secara acak atas unsur merupakan suatu cara memperoleh sampel yang mewakili.

Kinerja dan Penilaian

Prosedur audit memadai untuk suatu tujuan audit tertentu harus diterapkan terhadap setiap unsur sampel. Dalam beberapa situasi, auditor mungkin tidak dapat menerapkan prosedur audit yang direncanakan terhadap unsur sampel yang terpilih karena, misalnya, dokumentasi pendukungnya hilang.

SAMPLING DALAM PENGUJIAN PENGENDALIAN

Perencanaan Sampel

Dalam perencanaan sampel audit tertentu untuk pengujian pengendalian, auditor harus mempertimbangkan:

a. Hubungan antara sampel dengan tujuan pengujian pengendalian.

b. Tingkat penyimpangan maksimum dari pengendalian yang ditetapkan yang akan mendukung tingkat risiko pengendalian yang direncanakan.

c. Tingkat risiko yang dapat diterima auditor atas penentuan risiko pengendalian yang terlalu rendah.

d. Karakteristik populasi, yaitu, unsur yang membentuk saldo akun atau kelompok transaksi yang menjadi fokus perhatian.

Pemilihan Sampel

Unsur sampel harus dipilih sedemikian rupa sehingga sampel yang terpilih diharapkan dapat mewakili populasi. Oleh karena itu, semua unsur dalam populasi harus memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih. Pemilihan secara acak merupakan salah satu cara pemilihan sampel tersebut. Ada tiga metode pemilihan sampel yang umum digunakan: (1) pemilihan acak (random selection), yaitu setiap unsur dalam populasi atau dalam setiap strata memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih, (2) pemilihan sistematik (systematic selection), yaitu pemilihan unsur dengan menggunakan interval konstan di antara yang dipilih, yang interval permulaannya dimulai secara

acak, (3) pemilihan sembarang (haphazard selec-tion), yang merupakan alternatif pemilihan acak, dengan syarat auditor mencoba mengambil sampel yang mewakili dari keseluruhan populasi tanpa maksud untuk memasukkan atau tidak memasukkan unit tertentu ke dalam sampel yang dipilih. Idealnya, auditor harus menggunakan metode pemilihan yang memiliki kemampuan untuk memilih unsur dari seluruh periode yang diaudit. SA Seksi 319 [PSA No. 23] Pertimbangan Pengendalian Intern dalam Audit Laporan Keuangan paragraf 73 memberikan panduan yang dapat diterapkan dalam penggunaan sampling oleh auditor selama periode interim dan periode sisanya.

Kinerja dan Penilaian

Prosedur audit memadai untuk mencapai tujuan pengujian pengendalian harus dilaksanakan terhadap setiap unsur sampel. Jika auditor tidak dapat menerapkan prosedur audit yang direncanakan atau prosedur alternatif memadai terhadap unsur sampel yang terpilih, ia harus mempertimbangkan penyebab keterbatasan tersebut , dan ia biasanya harus mempertimbangkan unsur yang terpilih tersebut sebagai penyimpangan dari prosedur atau kebijakan yang telah ditetapkan untuk tujuan penilaian sampel.

SAMPEL DENGAN TUJUAN GANDA

Dalam beberapa situasi, auditor dapat mendesain sampel yang akan digunakan untuk memenuhi dua tujuan: menentukan risiko pengendalian dan menguji kebenaran jumlah moneter transaksi yang dicatat . Pada umumnya, auditor yang merencanakan untuk menggunakan sampel dengan tujuan ganda telah membuat estimasi pendahuluan bahwa terdapat tingkat risiko yang rendah bahwa penyimpangan dari pengendalian yang ditetapkan dalam populasi, akan melebihi tingkat penyimpangan yang dapat diterima.

Test Of Controls

TEST OF CONTROLS

  1. Strategi Untuk Melaksanakan Pengujian Pengendalian

Berikut ini adalah tiga strategi yang berhubungan dengan penilaian resiko pengendalian :

  1. Menilai resiko pengendalian berdasarkan pemakai.
  2. Merencanakan suatu penilaian resiko pengendalian yang rendah berdasarkan pengendalian aplikasi
  3. Merencanakan suatu penilaian resiko pengendalian yang tinggi berdasarkan pada pengendalian umum dan tindak lanjut manual.

ü  Pengendalian Pemakai

Dalam banyak kasus, klien mungkin merancang prosedur manual untuk menguji kelengkapan dan keakuratan dari transaksi yang diproses oleh komputer pengendali aplikasi.

Dalam rangka merencanakan setrategi auditor seharusnya :

  • Menguji pengendalia aplikasi komputer
  • Menguji pengendalian umum komputer
  • Menguji tindak lanjut manual untuk pengecualian yang dicatat oleh pengendalian aplikasi

ü  Pengendalian Umum Dan Prosedur Tindak Lanjut

ü  Teknik Audit Berbantuan Komputer

ü  Simulasi Paralel

  1. Data Pengujian

Dengan pendekatan data pengujian, transaksi buatan dipersiapkan oleh auditor dan diproses menurut pengendalian auditor denghan program klien. Akan tetapi metode ini kelemahan :

v  Program klien diuji hanya pada titik waktu tertentu dan tidak sepanjang priode

v  metode yang digunakan adalah suatu pengujian dimana hnayna pengendaliuan yang ada yang berfungsi oleh program.

v  Tidak terdapat pemeriksaan dokumentasi se4cara aktual diproses oleh sistem

v  Operator komputer mengetahui bahwa data pengujian sedang dijalankan, sehingga dapat mengurangi validitas output.

v  Lingkup pengujian terbatas pada imajinasi ouditor dan pengetahuan tentang pengendalian dalam aplikasi.

ü  Fasilitas Pengujian Terintegrasi

Pendekatan fasilitas pengujian terintegrasi (integrated test facility/ITF approuch) membutuhkan pembentukan suatu sub sistem yang kecil (suatu perusahaan mini) dalam sistemteknologi reguler. Hal ini dapat dengan menciptakan file master buatan atau catatan arsip buatan ke dalam arsip klien yang ada.

ü  Menilai Pengendalian Teknologi Informasi

  1. Mempertimbangkan pengetahuan yang diperoleh dari prosedur untuk memperoleh suatu pemahaman
  2. Mengidentifikasi salah saji professional
  3. Mengidentifikasi pengendalian yang diperlukan

ü  Keberadaan Bukti Lain

Auditor seharusnya mempertimbangkan keberadaan bukti lain dari pengujian pengendalian (existance of other evdence from test of controls).

ü  Keputusan Pemilihan Staff

Suatu keputusan akhir audit melibatkan pemilihan staf untuk pengujian pengendalian (staffing for test of controls), atau siapa yang seharusanya melaksanakan pengujian pengendalian.

Pertimbangan Tambahan

Auditor secara khusus pertama kali menilai resiko pengendalian untuk asersi yang berkenaan dengan kelas transaksi seperti penerimaan kas dan pengeluaran kas. Penilaian tersebut kemudian digunakan untuk menilai resiko pengendalian asersi saldo akun yang signifikan sehingga kesesuaian dari tingkat pengujian substantif yang direncanakan untuk saldo akun dapat ditentukan, dan pengujian substantif khusus dapat dirancang. Proses ini dipertimbangkan selanjutnya, pertama untuk akun-akun yang dipengaruhi oleh suatu kelas transaksi tunggal dan kemudian untuk akun-akun yang dipengaruhi oleh kelas transaksi berganda.

 

Kertas Kerja Audit

KERTAS KERJA AUDIT

Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) SA Seksi 339 (PSA No. 15) mengatur mengenai Kertas Kerja Audit.

Kertas Kerja adalah catatan yang dipersiapkan dan disimpan oleh auditor yang isinya meliputi prosedur audit yang diterapkan, pengujian yang dilakukan, informasi yang diperoleh serta kesimpulan yang dicapai dalam penugasan audit.

Dalam setiap penugasan audit dibutuhkan penyusunan kertas kerja yang paling sesuai dengan kondisi penugasan yang sedang dihadapi.

Kertas Kerja terutama berfungsi untuk :

  1. Sebagai pendukung utama bagi laporan auditor,
  2. Membantu auditor dalam pelaksanaan dan supervisi audit.

Faktor-faktor berikut ini dapat mempengaruhi pertimbangan auditor mengenai kuantitas, bentuk dan isi kertas kerja :

  1. Sifat dasar penugasan
  2. Sifat dasar laporan auditor
  3. Sifat dasar laporan keuangan, lampiran atau informasi lain yang dilaporkan oleh auditor
  4. Sistim pembukuan yang ada pada perusahaan klien
  5. Cukup tidaknya pengendalian intern terhadap pencatatan akuntansi
  6. Tingkat supervisi dan penelaahan yang diperlukan

Kertas kerja biasanya harus berisi dokumentasi yang memperlihatkan :

  1. Pekerjaan telah direncanakan dan disupervisi dengan baik
  2. Pemahaman memadai atas pengendalian intern telah diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang telah dilakukan
  3. Bukti audit yang telah diperoleh, prosedur audit yang telah ditetapkan, dan pengujian yang telah dilaksanakan, memberikan bukti kompeten yang cukup sebagai dasar memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan.

Pada umumnya, kertas kerja audit dapat diklasifikasikan dalam 3 kelompok, yaitu :

  1. Permanent File
  2. Current File
  3. Tax File

Kertas kerja adalah milik auditor. Namun hak dan kepemilikan atas kertas kerja masih tunduk pada pembatasan yang diatur dalam Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik yang berkaitan dengan hubungan yang bersifat rahasia dengan klien.

Tujuan Audit Dan Bukti Audit

TUJUAN AUDIT DAN BUKTI AUDIT

A.    TUJUAN AUDIT

Dalam standar 1120 digariskan bahwa auditor internal harus memiliki sikap yang tidak memihak, tidak bias, dan menghindari konflik kepentingan. Lebih lanjut IIA memberikan panduan sebagai berikut:

  1. Dengan objektivitas individual dimaksudkan auditor internal melakukan penugasan dengan keyakinan yang jujur dan tidak membuat kompromi dalam hal kualitas yang signifikan. Auditor internal tidak boleh ditempatkan dalam situasi-situasi yang dapat mengganggu kemampuan mereka dalam membuat penilaian secara objektif profesional.
  2. Objektivitas Individual melibatkan kepala audit eksekutif (CAE) untuk memberikan penugasan staf sedemikian rupa sehingga mencegah konflik kepentingan dan bias, baik yang potensial maupuna ktual. CAE juga perlu secara berkala mendapatkan informasi dari staf audit internal mengenai potensi konflik kepentingan dan bias mereka, serta bila memungkinkan, memberlakukan rotasi tugas.
  3. Review terhadap hasil pekerjaan audit internal sebelum komunikasi/laporan penugasan diterbitkan, akan membantu memberikan keyakinan yang memadai bahwa pekerjaan auditor internal yang bersangkutan telah dilakukan secara objektif.
  4. Objektivitas auditor internal tidak terpengaruh secara negatif ketika auditor merekomendasikan standar pengendalian untuk sistem tertentu atau melakukan review terhadap prosedur tertentu sebelum dilaksanakan. Objektivitas auditor dianggap terganggu jika auditor membuat desain, menerapkan, mendrafkan prosedur, atau mengoperasikan sistem tersebut.
  5. Pelaksanaan tugas sesekali di luar audit oleh auditor internal, bila dilakukan pengungkapan penuh dalam pelaporan tugas itu, tidak serta merta mengganggu objektivitas. Namun, hal tersebut membutuhkan pertimbangan cermat, baik oleh manajemen maupun auditor internal untuk menghindari dampak negatif terhadap objektivitas auditor internal.

B.     BUKTI AUDIT

Bukti audit adalah segala informasi yang mendukung angka-angka atau informasi lain yang disajikan dalam laporan keuangan yang dapat digunakan oleh auditor sebagai dasar untuk menyatakan pendapatnya. Standar pekerjaan lapangan ketiga mewajibkan auditor untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan kompeten sebagai dasar bagi auditor untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diauditnya

Tipe Bukti Audit Dan Prosedur Audit

Ada delapan tipe bukti audit yang harus diperoleh auditor dalam auditnya: pengendalian intern, bukti fisik, bukti dokumenter, catatan akuntansi, perhitungan, bukti lisan, perbandingan dan ratio, serta bukti dari spesialis.

Untuk memperoleh bukti audit, auditor melaksanakan prosedur audit yang merupakan instruksi terperinci untuk mengumpulkan tipe bukti audit tertentu yang harus diperoleh pada saat tertentu dalam audit. Prosedur audit yang dipakai oleh auditor untuk memperoleh bukti audit adalah inspeksi, pengamatan, wawancara, konfirmasi, penelusuran, pemeriksaan bukti pendukung, penghitungan, dan scanning.

Dalam proses pengumpulan bukti audit, auditor melakukan empat pengambilan keputusan yang sating berkaitan, yaitu penentuan prosedur audit yang akan digunakan, penentuan besarnya sampel untuk prosedur audit tertentu, penentuan unsur tertentu yang harus dipilih dari populasi, dan penentuan waktu yang cocok untuk melaksanakan prosedur audit tersebut.

Etika Profesional

ETIKA PROFESIONAL

Apakah Etika Itu?

Etika secara umum didefinisikan sebagai perangkat prinsip moral atau nilai.

Daftar prinsip-prinsip berikut ini berhubungan dengan karakteristik dan nilai-nilai yang sebagian besar dihubungkan dengan prilaku etis

  • Kejujuran
  • Integritas
  • Mematuhi Janji
  • Loyalitas
  • Keadilan
  • Kepedulian kepada Orang Lain
  • Menghargai Orang Lain
  • Menjadi Warga Yang Bertanggungjawab
  • Mencapai Yang Terbaik
  • Ketanggunggutan

Kebutuhan akan Etika

Kebutuhan akan etika dalam masyarakat cukup penting sehingga banyak diantara nilai-nilai etika yang dimasukkan dalam undang-undang. Sejumlah besar nilai etika dalam masyarakat tidak dapat dimasukkan dalam undang-undang karena sifat nilai tertentu yang memerlukan pertimbangan.

Mengapa Orang Bertindak Tidak Beretika

Terdapat dua alasan utama mengapa orang bertindak tidak beretika ;

  1. Standar etika seseorang berbeda dari masyarakat umum
  2. Seseorang memilih bertindak semaunya

Etika Dalam Bisnis

Ada beberapa akibat potensial dari kasus-kasus dan terdapat banyak kritik terhadap bisnis yang ditampilkan filem, televisi, surat kabar dan media lainnya. Contoh kasus pertama tadi menunjukkan upaya untuk membuat perilaku bisnis yang tidak beretika seolah-olah normal saja. Kasus kedua menyimpulkan bahwa perilaku manajemen tersebut tidak beretika dan bisnisnya tetap sukses. Akhirnya, dan barangkali merupakan yang terpenting, adalah menyimpulkan bawa suatu tindakan haruslah benar-benar ekstrim untuk dinyatakan sebagai tidak beretika. Sebagai contoh, merupakan tanggungjawab social untuk memperlakukan pegawai, pelanggan dan pemasok secara jujur dan adil, tetapi dalam jangka panjang banyak kemungkinan tindakan yang akan diambil untuk keberhasilan bisnis.

Dilema Etika

Dilema etika adalah situasi yang dihadapi seseorang dimana keputusan mengenai perilaku yang pantas harus dibuat. Contoh sederhana dari dilema etika adalah pada saat kita menemukan cicin berlianyang memaksa kita untuk memutuskan mengembalikan pada pemiliknya atau untuk kita saja.

Auditor, akuntan dan kalangan bisnis lainnya menghadapi banyak dilema etika dalam karier bisnis mereka

Memecahkan Dilema Etika

Ada beberapa alternative pemecahan dilemma etika, tetapi harus berhati-hati untuk menghidari cara yang merupakan rasionalisasi perilakutidak beretika. Berikut ini adalah metode rasionalisasi yang biasanya digunakan bagi perilaku tidak beretika ;

-          Semua orang melakukannya

-          Jika itu legal, maka itu beretika

-          Kemungkinan ketahuan dan konsekuensinya

-          Fakta Relevan

-          Masalah etika

-          Konsekuensi dari setiap alternative

Kebutuhan Khusus Berperilaku Beretika Dalam Profesi

Alasan yang mendasari diperlukannya perilaku professional yang tinggi pada setiap profesi adalah kebutuan akan kepercayaan public terhadap kualitas jasa yang diberikan profesi, terlepas dari yang dilakukan secara peorangan. Bagi akuntan public, penting untuk meyakinkan klien dan pemakai laporan keuangan akan kualitas audit dan jasa lainnya. Jika pmakai jasa tidak mempunyai keyakinan pada ali medis, hakim atau akuntan public, kemampuan professional itu untuk memberikan jasa kepada klien dan asyarakat secara efekti berkurang.

Prinsip Prilaku Profesional

Prinsip-prinsip Etika

  1. Tanggungjawab
  2. Kepentingan masyarakat
  3. Integritas
  4. Objektivitas dan Independen
  5. Keseksamaan
  6. Lingkup dan Sifat Jasa

Independensi

Independensi dalam audit berarti cara pandang yang tidak memihak di dalam pelaksanaan pengujian, evaluasi hasil pemeriksaan, dan penyusunan laporan audit. Apabila auditor adalah seorang penasehat klien,seorang banker atau yang lainnya, dia tidak dapat dikatakan independen.

Hubungan Keuangan Dengan Klien

Di Amerika Serikat, tedapat aturan yang lebih rinci mengenai peilikan saham tersebut. Ada tiga perbedaan dalamperaturan 101 da Amerika Serikat sehubungan dengan independensi dan kepemilikan saham ;

-          Partner atau pemegang saham kontra non-partner atau non-pemegang saham

-          Kepentingan keuangan langsung dan tidak langsung

-          Material dan tidak material

-          Mantan praktisi

-          Prsedur peminjaman yang normal

-          Kepentingan keuangan pada hubungan keluarga

-          Hubungan investor atau investee bersama dengan klien

-          Komisaris, direksi, manajemen atau pegawai perusahaan

Upaya Memelihara Independensi

Banyak elemen-elemen dan persyaratan atau dorongan lain bagi akuntan untuk mempertahankan independensi dalam kenyataan dalam penampilan. Hal-hal itu yang yang terutama berlaku di Amerika Serikat, akan diikhtisarkan secara ringkas sebagai berikut.

-          Kewajiban Hukum

-          Peraturan 101, interperestasi dan ketentuannya

-          Standar auditing yang berlaku umum

-          Standar pengendalian mutu IAI (dan AICPA di Amerika Serikat)

-          Pendivisian Perusahaaan

-          Komite Audit

-          Kominikasi denagn auditor pendahuluan

-          Menjajangi pendapat mengenai penerapan prinsip akuntansi

-          Pengesahan auditor oleh pemegang saham

Standar-Standar Teknis

Di Amerika Serikat terdapat aturan-atuaran perilaku bagi anggota AICPA yang berkaitan dengan standar teknis.

Peraturan 201- Standar Umum

Peraturan 202- Ketaatan pada standar

Peraturan 203- Prinsip akuntansi

Peraturan 301- Informasi Rahasia Klien

Tindakan Yang Mendatangkan AIB

Tindakan yang mendatangkan AIB kurang jelas didefinisikan dalam aturan dan interprestasi. Ada tiga interprestasi, tetapi kecuali untuk yang pertama, semuanya masih tersamar. Ketiga interprestasi itu diikhtisarkan berikut ini ;

  1. Merupakan tindakan tercela bila menahan catatan klien setelah mereka meminta.
  2. Kantor akuntan public tidak boleh melakukan diskriminasi berdasarkan ras, warna kulit, agam, jenis kelamin, umur maupun asal kebangsaan.

Audit Objecktive

Auditing adalah proses pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai suatu entitas ekonomi yang dilakukan seorang yang kompeten dan independen untuk dapat menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi dimaksud dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan.

Audit Evidence ( Bukti Audit )

Bukti audit adalah segala informasi yang mendukung angka-angka atau informasi lain yang disajikan dalam laporan keuangan yang dapat digunakan oleh auditor sebagai dasar untuk menyatakan pendapatnya

Working Paper

Kertas kerja adalah catatan yang diselenggarakan oleh auditor mengenai prosedur audit yang ditempuhnya, pengujian yang dilakukannya, informasi yang diperolehnya, dan simpulan yang dibuatnya sehubungan dengan auditnya. Kertas kerja merupakan mata rantai yang menghubungkan catatan akuntansi klien dengan laporan audit yang dihasilkan oleh auditor. Kertas kerja biasanya harus berisi dokumentasi yang memperlihatkan:

(a) telah dilaksanakannya standar pekerjaan lapangan pertama,

(b) telah dilaksanakannya standar pekerjaan lapangan kedua,

(c) telah dilaksanakannya standar pekerjaan lapangan ketiga,

Empat tujuan terpenting pembuatan kertas kerja adalah untuk :

(1) mendukung pendapat auditor atas laporan keuangan auditan,

(2) menguatkan simpulan-simpulan auditor dan kompetensi auditnya,

(3) mengkoordinasi dan mengorganisasi semua tahap audit, dan

(4) memberikan pedoman dalam audit tahun berikutnya.

Faktor yg harus diperhatikan dlm pembuatan kertas kerja:

1. Lengkap

2. Teliti

3. Ringkas

4. Jelas

5. Rapi

TIPE KERTAS KERJA:

1.   Program Audit (Audit Program)

2.   Working Trial Balance

3.    Ringkasan Jurnal adjustment

4.   Skedul Utama (lead schedule atau top schedule)

5.    Skedul Pendukung (Supporting Schedule)

Susunan Kertas Kerja :

  1. Draft Laporan Audit (Audit Report)
  2. Laporan Keuangan Auditan
  3. Ringkasan Informasi bagi reviewer
  4. Program Audit
  5. Laporan Keuangan / Lembar Kerja yg dibuat klien
  6. Ringkasan Jurnal Adjustment
  7. Working Trial Balance
  8. Skedul Utama
  9. Skedul Pendukung

Jenis Pengarsipan Kertas Kerja:

  1. Arsip Kini (Current File)
  1. Arsip Permanen (Permanent File

Standar dan Laporan Audit

STANDAR AUDIT

 A.    Pengertian Standar Audit

Standar audit adalah ukuran pelaksanaan tindakan yang merupakan pedoman umum bagi auditor dalam melaksanakan audit.

B.     Pembagian Standar Audit

Standar audit terdiri dari sepuluh standar yang dibagi kedalam 3 kelompok besar, yaitu :

  1. Standar umum
  1. Standar Pekerjaan Lapangan
  2. Standar Pelaporan

Standar pelaporan terdiri dari:

LAPORAN AUDIT

A.      Laporan Audit Standar Dengan Pendapat Wajar tanpa Pengeculian

Bentuk laporan audit yang paling umum adalah laporan audit standar dengan pendapatan wajar tanpa pengecualian. Lebih dari 90 persen laporan audit menggunakan bentuk ini. Laporan audit standar wajar tanpa pengecualian digunakan bila kondisi berikut terpenuhi.

Kondisi Untuk Laporan Wajar Tanpa Pengecualian :

  1. Semua Laporan keuangan – neraca, laporan laba rugi, saldo laba dan laporan arus kas – sudah tercakup didalam laporan keuangan.
  2. Ketiga strandar umum telah diikuti sepenuhnya dalam penugasan.
  3. Bahan bukti yang cukup telah dikumpulkan dan auditor tesebut telah melaksanakan penugasan dengan cara yang memungkinkan baginya untuk menyimpulkan bahwa ketiga standar pekerjaan lapangn telah dipenuhi.
  4. Laporan keuangan disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum ini berarti bahwa pengungkapan yang memadai telah disertakan dalam catatan kaki dan bagian-bagian lain laporan keuangan.

Tidak terdapat situasi yang memerlukan penambahan paragraf penjelasan atau modifikasi kata-kata dalam laporan.

B.      Bagian-Bagian Dari Laporan Audit Bentuk Baku

Terlepas dari siapa auditornya,ketujuh bagian laporan audit berikut ini akan tetap sama.

  1. Judul laporan
  2. Alamat yang dituju laporan audit
  3. Pragraf pendahuluan
  4. Pragraf lingkup audit
  5. Pragraf pendapat
  6. Tanda tangan dan nama akuntan publik
  7. Tanggal laporan audit

C.      Keadaan Yang Menyebabkan Panyimpangan Pendapat Dari Wajar Tanpa Pengecualian

Dalam membahas laporan audit yang menyimpang dari laporan audit standar ada tiga topik yang berhubungan, yaitu : yang menyebabkan penyimpangn dari pendapat wajar tanpa pengecualian, jelas pendapat selain dari pendapat wajar tanpa pengecualian, dan materialitas.

Kondisi 1. Pembatasan lingkup audit.

Kondisi 2. Laporan keungan tidak disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum sebagai

  1. Laporan Audit Selain Laporan Wajar Tanpa Pengecualian

Jika salah satu dari ketiga kondisi diatas, yang menuntut penyimpangan dari pendapat wajar tanpa pengecualian, ditemukan dalam audit dan dampaknya material, auditor harus memberikan pendapat selain wajar tanpa pengecualian dalam laporannya. Pendapat tidak wajar (adverse opinion), pernyataan tidak memberi pendapat (disclaimer of opinion), dan pendapat wajar dengan pengecualian (qualified opinion).

  1. Pendapat Tidak Wajar
  2. Pernyataan Tudak Memberikan Pendapat
  3. Pendapat Wajar Dengan Pengecualian

 

MATERIALITAS DAN RISIKO (ppt)

Materialitas dan Risiko

OLEH :

FEBRI YULISA

NONI AISYAHDINI

WINDI WULANDARI

 

MATERIALITAS DAN RISIKO

 

MATERIALITAS

Materialitas merupakan pertimbangan utana dalam menentukan laporan audit yang tepat untuk diterbitkan. FASB mendefinisikan materialitas yaitu besarnya nilai yang dihilangkan atau salah saji informasi akuntansi yang dilihat dari keadaan yang melingkupinya dapt mengakibatkan perubahan atas atau pengaruh terhadap pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan terhadap informasi tersebut, karena adanya penghilangan atau salah saji tersebut.

Oleh karena auditor bertanggung jawab menentukan apakah terdapat salah saji informasi akuntansi yang dilihat dari keadaan yang melingkupinya dapat mengakibatkan perubahan atas atau pengaruh terhadap pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan terhadap informasi tersebut, karena adnaya penghilangan atau salah saji tersebut. Jika klien menolak untuk mengoreksi salah saji tersebut, maka auditor harus menerbitkan opini wajar dengan pengecualian atau tidak wajar, bergantung pada seberapa signifikan salah saji tersebut. Untuk menentukan hal tersebut, auditor sangat bergantung pada pengetahuan yang mendalam atas penerapan materialitas.

LANGKAH-LANGKAH PENERAPAN MATERIALITAS

Langkah 1

MENETAPKAN PERTIMBANGAN MATERIALITAS AWAL

PSA 25 (SA 312) menharuskan auditor untuk memutuskan jumlah gabungan salah saji dalam laporan yang akan mereka anggap material di awal pengauditan bersamaan dengan ketika mereka mengembangkan strategi audit secara keseluruhan. Dinamakan pertimbangan materialitas awal, karena meskipun merupakan opini professional, penilaian tersebut dapat berubah selama kontrak kerja. Penilaian tersebut harus didokumentasikan dalam arsip audit.

Pertimbangan materialitas awal merupakan jumlah maksimal dimana auditor yakin terdapat salah saji dalam laporan keuangan namun tidak memengaruhi keputusan-keputusan para pengguna yang rasional. (secara konsep, ini adalah jumlah yang Rp 1 lebih kecil dari pada materialitas yang didefinisikan oleh FASB. Untuk kemudahan, kita mendefinisikan hal tersebut sebagai materialitas awal). Penilaian ini merupakan salah satu keputusan yang paling penting yang harus diambil oleh audior, dan sangat membutuhkan pemahaman dan pertimbangan professional yang tinggi. Auditor menetapkan pertimbangan materialitas awal untuk membantunya merencanakan pengumpulan bukti-bukti audit yang tepat.

Selama melakukan audit, auditor sering kali mengubah pertimbangan awal yang diistilahkan sebagai penilaian materialitas yang direvisi

FACTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PENILAIAN

Beberapa factor yang memengaruhi auditor dalam melakukan pertimbangan materialitas awal dalam laporan keuangan. Hal-hal yang snagat penting untuk diperhatikan dalam konsep materialitas adalah sebagai berikut :

  1. Materialitas Merupakan Konsep Relative, Bukan Absolute

Sebuah salah saji dengan besaran tertentu dapat menjadi material bagi suatu perusahaan kecil , sebaiknya dengan jumlah salah saji yang sama dapat menjadi tidak material bagi perusahaan yang besar. Sehingga tidak mungkin untuk menetukan acuan nilai nominal untuk pertimbangan materialitas awal yang dapat diterapkan untuk semua klien audit.

  1. Dibutuhkan Dasar untuk Mengevaluasi Materialitas

Karena materialitas adalah konsep yang relative, sehingga sangat penting untuk memiliki dasar dalam menentukan apakah suatu jumlah tertentu material atau tidak.laba bersih sebelum pajak biasanya dijadikan sebagai dasar dalam menentukan materialitas bagi perusahaan yang berorientasi laba karena dianggap sebagai unsure yang sangat penting bagi para penggunanya. Beberapa perusahaan menggunakan dasar utama yang berbeda, karena laba bersih sering kali naik turun secara signifikan dari tahun ketahun, sehingga tidak dapat memberikas dasar secra stabil, atau ketika entitasnya adalah suatu perusahaan nirlaba. Sering kali dasar utama yang digunakan adalah penjualan bersih, laba kotor, dan total asset atau asset bersih. Setelah menetapkan dasar utama, auditorjuga harus memutuskan apakah salah saji tersebut secara signifikan berpengaruh pada kewajaran dasar lainnyaseperti asset lancar, total asset liabilitas lancar dan ekuitas pemilik. PSA 25 (SA 312) mengharuskan auditor untuk mendokumentasikan dasar yang digunakan dalam melakukan pertimbangan materialitas awal kedalam prinsip audit.

  1. Factor-Faktor Kualitatif Juga Memengaruhi Materialitas.

Langkah 2

MENGALOKASIKAN PERTIMBANGAN MATERIALITAS AWAL KESETIAP BAGIAN (SALAH SAJI YANG DAPAT DITERIMA)

Pengalokasian pertimbangan materialitas awal kesetiap bagian merupakan hal yang penting untuk dilakukan karena auditor mengumpulkan bukti audit per bagian dibandingkan dengan laporan keuangan secara keseluruhan. Ketika auditor mengalokasikan pertimbangan materialitas awal pada saldo-saldo akun, materialitas yang dialokasikan setiapsaldo akun yang dimaksud dalam PSA 25 (SA 312) sebagai salah saji yang dapat diterima.

Langkah 3

MEMPERKIRAKAN SALAH SAJI DAN MEMBANDINGKAN DENGAN PENILAIAN AWAL

Salah saji dalam suatu akun dapat berbentuk satu dari dua jenis ini, yaitu salah saji yang diketahui salah saji yang mungkin. Salah saji yang diketahui adalah salah saji dimana auditor dapat menetukan jumlah salah saji dalam akun tersebut. Salah saji yang mungkin terdapat dua jenis, pertama yaitu salah saji yang muncul karena adanya perbedaan antara penilaian manajemen dan penilaian auditor mengenai estimasi saldo akun. Yang kedua adalah proyeksi salah saji bedasarkan pengujian auditor atas sampel yang diambil dari populasi.

Langkah 4

MENGERSTIMASIKAN SALAH SAJI GABUNGAN

Langkah 5

MEMBANDINGKAN ESTIMASI SALAH SAJI GABUNGAN DENGAN MATERIALITAS DALAM PENILAIAN AWAL ATAU PENILAIAN YANG DIREVISI

RISIKO

Risiko (risk) penerimaan auditor bahwa terdapat beberapa tingkat ketidakpastian dalam menjalankan fungsi audit.

Model risiko audit dan perencanaan

Auditor menangani risiko dalam perencanaan bukti audit umumnya dengan menggunakan model risiko audit. Model risiko audit membantu auditor untuk menentukan seberapa banyak dan jenis bukti apakah yang harus dikumpulkan auditor untuk setiap siklusnya.

JENIS-JENIS RISIKO

  1. Risiko Deteksi yang Direncanakan (Planned Detection Risk)

Risiko deteksi yang direncanakan merupakan risiko dimana bukti audit untuk suatu bagian tidak mampu mendeteksi salah saji yang melebihi salah saji yang dapat diterima. Risiko ini hanya dapat berubah jika auditor mengubah salah satu risiko dalam model risiko audit tersebut.

  1. Risiko Bawaan (inherent risk)

Risiko bawaan mengukur penilaian auditor atas kemungkinan terdapatnya salah saji material (baik kecurangan maupun kesalahan) dalam sebuah bagian pengauditan sebelum mempertimbangkan efektifitas pengendalian internal klien.

  1. Risiko Pengendalian (Control Risk)

Risiko pengendalian mengukur penilaian auditor mengenai apakah salah saji melebihi jumlah yang dapat diterima di suatu bagian pengauditan akan dapat dicegah atau dideteksi dengan tepat waktu oleh pengendalian internal klien.

  1. Risiko Audit yang Dapat Diterima (Acceptable Audit Risk)

Risiko audit yang dapat diterima mengukur tingkat kesediaan auditor untuk menerima kemungkinan adanya salah saji dalam laporan keuangan setelah audit telah selesai dijalankan dan opini wajar tanpa pengecualian telah diterbitkan.

MENILAI RISIKO AUDIT YANG DAPAT DITERIMA

Dalam sebuah pengauditan, auditor harus memutuskan risiko audit yang dapat diterima, lebih utama dilakukan selama masa perencanaan. Pertama, auditor menetapkan risiko kontrak kerja dan kemudian menggunakan risiko kontrak kerja tersebut untuk memodifikasi risiko audit yang dapat diterima.

DAMPAK RISIKO KONTRAK KERJA TERHADAP RISIKO AUDIT YANG DAPAT DITERIMA

Risiko kontrak kerja (engagement risk) adalah risiko dimana auditor atau KAP akan mendapat masalah setelah audit diselesaikan, meskipun laporan audit sudah benar. Risiko kontrak kerja sangat terkait erat dengan risiko bisnis klien. Sangat penting untuk dicatat bahwa auditor tidak menyetujui mengenai apakah risiko kontrak kerja harus dipertimbangkan dalam perencanaan audit.

FACTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI RISIKO AUDIT

  1. Tingkat Ketergantungan Pengguna Eksternal Laporan Keuangan

Factor-faktor yang merupakan indicator yang baik untuk menilai tingkat ketergantungan para pengguna terhadap laporan keuangan :

a)      Ukuran klien. Umumnya, makin besar kegiatan operasi klien, makin luas penggunaan laporan keuangan. Ukuran klien, yang diukur dengan asset total atau pendapatan total, akan berpengaruh terhadap risiko audit yang dapat diterima.

b)      Distribusi kepemilikan. Laporan keuangan perusahaan public umumnya diandalkan oleh lebih banyak pengguna dibandingkan dengan perusahaan tertutup lainnya. Untuk perusahaan public ini, pihak yang berkepentingan lainnya adalah SEC, analisis keuangan, dan masyarakat umum.

c)       Sifat dan jumlah liabilitas. Ketika laporan memiliki sejumlah besar liabilitas,besar kemungkinan laporan tersebut akan digunakan secara lebih luas oleh para kreditor yang ada ataupun para calon kreditor dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki lebih sedikit liabilitas.

  1. Kemungkinan Klien Akan Mengalami Kesulitan Keuangan Setelah Laporan Audit Diterbitkan

Sulit bagi auditor untuk memprediksi kegagalan keuangan sebelum hal itu terjadi, namun beberapa factor berikut dapat menjadi indicator yang baik atas meningkatnya kemungkinan kegagalan keuangan tersebut.

a)      Posisi likuiditas. Jika klien terus menerus kekurangan kas dan modal kerja, hal ini mengindikasikan adanya masalah dimasa mendatang dalam pembayaran utang-utangnya. Auditor harus menilai kemungkinan dan seberapa besar penurunan posisi likuiditas yang terjadi terus-menerus.

b)      Laba (rugi) ditahun-tahun sebelumnya. Sangat penting untuk mempertimbangkan perubahan laba relative terhadap saldo yang tersisa dalam saldo laba.

c)       Metode pertumbuhan pembiayaan. Auditor harus mengevaluasi apakah asset tetap klien dibiayai oleh pinjaman jangka pendek atau jangka penjan, karena sejumlah besar kas keluar yang dibutuhkan dalam waktu yang singkat akan memaksa perusahaan untuk mengalami kebangkrutan.

d)      Sifat kegiatan operasi klien. Beberapa jenis bisnis secara alamiah lebih berisiko dibandingkan dengan bisnis lainnya.

e)      Kompetensi manajemen. Manajemen yang kompeten secara terus menerus akan mewaspadai adanya potensi kesulitan keuangan dan memodifikasinya dengan berbagai metode operasi untuk meminimalkan pengaruh dari masalah jangka pendek. Auditor harus menilai kemampuan manajemen sebagai bagian dari evaluasi atas kemungkinan terjadinya kebangkrutan.

  1. Evaluasi Auditor Terhadap Integritas Manajemen

Perusahan-perusahaan dengan integritas rendah sering kali menjalankan aktivitas bisnis mereka dengan cara-cara yang dapat menimbulkan konflik dengan para pemegang sahamnya, pemerintah dan pelanggannya. Pada akhirnya, konflik-konflik tersebut sering kali tercermin  dalam persepsi pengguna terhadap kualitas audit dan dapat mengakibatkan adanya tuntutan hukum dan ketidaksetujuan lainnya.

  1. Membuat Keputusan Risiko Audit yang Dapat Diterima

Evaluasi yang biasanya dilakukan untuk risiko audit yang dapat diterima adalah tinggi, sedang atau rendah, dimana risiko audit yang dapat diterima rendah berarti bagi klien yang “berisiko” harus mendapatkan bukti yang lebih banyak, penugasan staf audit yang lebih bepengalaman, dan/atau penelaahan yanag lebih mendalam atas dokumentasi audit. Sejalan dengan perkembangan kemajuan kontrak kerja, auditor mendapatkan informasi tambahan mengenai klien, sehingga risiko audit yang dapat diterima dapat dimodifikasi.

MENILAI RISIKO BAWAAN

Masuknya risiko bawaan dalam model risiko audit merupakan slah satu konsep penting dalam pengauditan. Hal ini mengimplikasikan bahwa auditor harus mencoba untuk memprediksi bagian mana kemungkinan terdapat salah saji dalam laporan keuangan. Informasi ini memengaruhi jumlah bukti yang akan dikumpulkan auditor, penugasan staf dan penelaahan dokumentsi audit.

  1. Factor-Faktor yang Memengaruhi Risiko Bawaan

Auditor harus menilai factor-faktor yang menyusun risiko dan memodifikasi bukti audit yang akan dijadikan bahan pertimbangan. Auditor harus mempertimbangkan  beberapa factor utama berikut ketika menilai risiko pengendalian.

a)      Sifat bisnis klien

b)      Hasil pengauditan sebelumnya

c)       Kontrak kerja yang pertama atau kontrak kerja yang berulang

d)      Pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa

e)      Transaksi-transaksi yang tidak rutin

f)       Penilaian yang diperlukan untuk mencatat saldo-saldo akun dan transaksi-transaksi dengan benar

g)      Membuat populasi

h)      Factor-faktor yang terkait dengan kecurangan dalam laporan keuangan

i)        Factor-faktor yang terkait dengan penyalahgunaan asset

  1. Membuat Keputusan Risiko Bawaan

Auditor harus mengevaluasi informasi yang dapat memengaruhi risiko bawaan dan memutuskan factor risiko bawaan yang tepat untuk setiap siklus, akun dan untuk setiap tujuan audit. Beberapa factor seperti kontrak kerja pertama atau kontrak kerja yang berulang, hanya akan memengaruhi akun-akun atau tujuan audit tertentu saja.

  1. Mendapatkan Informasi Untuk Menilai Risiko Bawaan

Auditor mulai melakukan penilaian atas risiko bawaan selama fase perencanaan dan memperbarui penilaian tersebut disepanjang pengauditan.

HUBUNGAN ANTARA RISIKO DAN MATERIALITAS DENGAN BUKTI AUDIT

Konsep materialitas dan risiko dalam audit sangat berkaitan erta dan tidak dapat dipisahkan. Risiko merupakan ukuran atas ketidakpastian, sedangkan materialitas merupakan ukuran besaran atau tinggi rendanhnya. Bersama-sama keduanya mengukur jumlah ketidakpastian dalam suatu besaran tertentu.

MERIVISI RISIKO DAN BUKTI

Dalam merivisi risiko dan bukti audit, auditor sebaiknya mengikuti pendektan dua langkah berikut ini :

  1. Auditor harus merivisi penilaian awal dari risiko yang wajar. Adalah pelanggaran jika membiarkan penilaian awal tidak diubah jika auditor tahu itu adalah tidak wahar
  2. Auditor harus mempertimbangkan dampak dari rivisi terhadap bukti yang diharuskan, tanpa penggunaan model risiko audit. Penelitian dalam bidang audit telah menunjukkan, jika risiko yang dirivisi digunakan dalam model risiko audit untuk menentukan risiko deteksi yang direncanakan yang juga telah direvisi, ada bahaya dari tidak meningkatkannya bukti secara memadai. Sebagai gantinya, auditor harus berhati-hati mengevaluasi implikasi dari revisi risiko dan memodifikasi dengan tepat, diluar dari model risiko audit.

AUDITING DAN PROFESI AKUNTAN PUBLIK

 

AUDITING DAN PROFESI AKUNTAN PUBLIK

1.      Auditing

Definisi Auditing

Auditing adalah suatu proses sistematis untuk memperoleh serta mengevaluasi bukti secara objektif mengenai asersi-asersi kegiatan dan peristiwa ekonomi, dengan tujuan menetapkan derajat kesesuaian antara asersi-asersi tersebut dengan criteria yang telah ditetapkan sebelumnya serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pihak yang berkepentingan.

Tipe Audit

Tipe atau jenis audit antara lain :

  1. Audit Laporan Keuangan
  2. Audit Kepatuhan
  3. Audit Operasional

Tipe Auditor

Tipe atau jenis auditor antara lain :

  1. Auditor internal
  2. Auditor Independen
  3. Auditor pemerintah
  1. 2.      Profesi Akuntan Publik

 

Definisi Akuntan Publik

Akuntan publik adalah akuntan yang telah memperoleh izin dari menteri keuangan untuk memberikan jasa akuntan publik (lihat di bawah) di Indonesia. Ketentuan mengenai akuntan publik di Indonesia diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 17/PMK.01/2008 tentang Jasa Akuntan Publik.

Kriteria Akuntan Publik

Ada tujuh kriteria yang harus dimiliki oleh akuntan publik :

  • Suatu lembaga pengetahuan spesialis
  • Suatu proses pendidikan formal
  • Standar untuk admisi
  • Suatu kode etik
  • Suatu pengakuan status ditandai dengan adanya lisensi atau penugasan khusus.
  • Adanya suatu kepentingan public dalam pekerjaan yang dilaksanakan praktisi.
  • Suatu pengakuan professional sebagai kewajiban social.

Jasa-Jasa Yang Dihasilakn Oleh Profesi Akuntan Publik

Jasa-jasa yang dihasilkan oleh profesi kantor akuntan publik, yaitu :

Jasa assurance

Jasa atestasi

Jasa Nonassurance

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.540 pengikut lainnya.